Sabtu, 21 Januari 2012

NUTRISI TERNAK BAB VIII VITAMIN DAN METABOLISMENYA



Istilah vitamin berasal dari nama “Vitamine” yang diberikan oleh Casimir Funk untuk faktor tambahan makanan. Vitamin adalah zat katalitik yang tidak dapat disintesis oleh tubuh dalam metabolismenya dan harus tersedia dari luar. Kebutuhan vitamin pada ternak terutama digunakan untuk pertumbuhan, kesehatan, konversi ransum, reproduksi dan pemeliharaan.
Definisi Vitamin
Vitamin yang sekarang diakui adalah persenyawaan organik yang (a) komponen bahan makanan tetapi bukan karbohidrat, lemak, protein dan air (b) terdapat dalam bahan makanan dalam jumlah yang sangat sedikit (c) esensial untuk perkembangan jaringan normal dan untuk kesehatan, pertumbuhan dan hiduo pokok, (d) kalau tidak terdapat dalam ransum atau tidak tepat diabsorbsi atau dipergunakan, mengakibatkan penyakit defesiensi yang khas atau sindrom dan (e) tidak dapat disintesis olehn hewan dan maka dari itu harus tersedia dalam ransum.
Diantara vitamin-vitamin ada beberapa pengecualian terhadap satu atau lebih klasifikasi tersebut di atas. Misalnya vitamin D dapat disintesis pada permukaan kulit oleh radiasi sinar ultraviolet dan asam nikotinat dalam beberapa hal sintesis dari triptofan.
Klasifikasi Vitamin
Klasifikasi vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan kelarutannya dalam lemak dan dalam air. Vitamin-vitamin yang larut dalam vitamin A, D, E dan K, terdapat dalam bahan-bahan makanan bersama dengan lipida. Vitamin – vitamin yang larut dalam lemak dan diabsorbsi bersama-sama lemak yang terdapat dalam ransum memperhatikan mekanisme yang sama seperti mekanisme absorbsi lemak. Kondisi yang baik untuk absorbsi lemak, misalnya cukup aliran empedu dan formasi misel sangat membantu absorbsi vitamin – vitamin yang larut dalam lemak.
Vitamin-vitamin yang larut dalam air yang dibutuhkanm oleh ternak adalah B1, B2, B6, B12, asam nikotinat, Asam pantontenat, asam folat, biotin dan kolin. Vitamin-vitamin ini tidak dihubungkan dengan lipida-lipida dan peningkatan absorbsi lemak tidak mempengaruhi absorbsi vitamin-vitamin tersebut.
Peranan Vitamin
Peran dari masing-masing vitamin adalah sebagai berikut :
Vitamin A. Meliputi hampir di semua bagian tubuh yang berperan membantu proses metabolisme . Defisiensi vitamin A pada ternak akan mengakibatkan keratinisasi pada jaringan epithel, mengganggu sistem pernafasan, saluran pencernaan, reproduksi dan saluran urine serta gangguan penglihatan. Disamping itu akan mengakibatkan perkembangan tulang terhambat, kelahiran yang tidak normal pada ternak. Rabun senja merupakan penyakit yang klasik akibat kekurangan vitamin A. Dari hasil percobaan pada unggas, defisien vitamin A mengakibatkan nafsu makan berkurang, rendahnya berat badan, rabun senja dan suara sengau.
Vitamin A tidak terdapat pada hijauan (forages), tetapi vitamin A pada tanaman biasanya dalam bentuk prekursor yang berupa pigmen tanaman. Tidak semua pigmen tanaman menyediakan vitamin A yang aktif. Biasanya bentuk standar provitamin A adalah Beta-carotene . 1 mg Beta-carotine equivalen 400 IU vitamin A yang terdapat pada makanan. Bentuk lain dari vitamin A adalah xanthophil.
Vitamin A biasanya disimpan pada jaringan hati dan lemak selama beberapa waktu saat makanan yang dikonsumsi kelebihan vitamin A. Jika ransum yang diberikan kekurangan vitamin A, maka Vitamin A yang disimpan akan dimobilisasi dan digunakan sehingga kekurangan vitamin A pada tubuh dapat diatasi.
Bahan – bahan yang dapat digunakan sebagai sumber vitamin A antara lain :
Daun yang hijau, hay legume yang didehidrasi khususnya yang dibuat pellet. Selain itu terdapat pula vitamin A sintetis yang dapat disediakan ke dalam ransum dalam bentuk feed aditif atau di injeksi. Vitamin D berfungsi untuk membantu absorbsi dan metabolisme kalsium dan phosphor. Jika kekurangan vitamin D akan mengganggu pertumbuhan normal tulang, tulang menjadi lunak baik pergelangan tangan dan kaki, dan kekurangan secara regular akan mengakibatkan rakhitis. Pada ternak rakhitis terjadi pada anak yang baru lahir sebagai akibat defesien vitamin D pada saat kebuntingan.
Sinar matahari merupakan sumber vitamin D yang baik, biasanya dalam bentuk radiasi Ultraviolet yang akan membentuk ergosterol, sterol tanaman dan 7-dehydrocholesterol, sterol hewan dan memproduksi antirakhitis yang aktif (Vitamin D2 dan D3).
Bahan-bahan pakan yang dapat digunakan sebagai sumber vitamin D adalah hay yang dijemur di bawah sinar matahari (sun-cured hay). Selain itu ternak dapat memanfaatkan langsung irradiasi 7-dehydrocholesterol pada kulitnya. De Luca (1974) menemukan adanya vitamin D3 yang aktif terjadi pada hati dan ginjal ternak.
Vitamin E berfungsi untuk memperbaiki fertilitas dan sebagai antioksidan. Ternak yang defesien vitamin E akan menyebabkan penyakit jaringan putih yang disebut Stiff lamb disease. Pengobatan dapat dilakukan dengan therapi vitamin E. Disamping itu kekurangan vitamin E akan mengganggu reproduksi.
Vitamin K berfungsi untuk membantu proses penggumpalan darah, biasanya dapat disintesis oleh rumen. Sehingga defesiensi vitamin K tidak nampak pada ternak. Vitamin B komplek tidak esensial bagi ternak ruminansia, karena secara normal ternak ruminansia mampu mensintesis vitamin B melalui mikroorganisme rumen. Hanya vitamin B12 yang mungkin terlihat jika ternak kekurangan zat tersebut. Sehingga ternak ruminansia membutuhkan cobalt untuk mensintesis vitamin B12 di dalam rumennya.
Beberapa faktor mempunyai pengaruh umum terhadap kebutuhan nutrisi semua vitamin, faktor lain dapat mempengaruhi kebutuhan untuk hanya satu atau dua vitamin. Faktor-faktor yang menimbulkan kenaikan dalam kebutuhan vitamin antara lain dipengaruhi oleh factor genetic, kandungan energi ransum, penambahan lemak ke dalam ransum, kandungan protein ransum, suhu dan sistem perkandangan. Sedangkan faktor – faktor yang menyebabkan naiknya kebutuhan vitamin dapat disebabkan oleh kerusakan vitamin dalam ransum dan bahan pakan, antagonis dan anti metabolit serta tersedianya vitamin dalam ransum.

NUTRISI TERNAK BAB VII MINERAL DAN METABOLISMENYA


Mineral atau elemen anorganik merupakan elemen-elemen atau unsur-unsur kimia selain karbon, hydrogen, oksigen dan nitrogen yang jumlahnya mencapai 95% berat badan, sedangkan seluruh mineral dalam tubuh hanya 4%.
Perkembangan penelitian tentang mineral sejalan dengan penelitian nutrient lainnya, yaitu :
a. 1842, Chossat meneliti tentang kebutuhan kalsium yang diberikan dalam bentuk grain aditif terhadap pertumbuhan tulang normal pada burung (merpati).
b. 1916, Forbes et al, meneliti tentang pemberian dan konsentrasi negatif kalsium, fosfor dan magnesium pada sapi perah selama laktasi.
c. 1951. Handsard et al; Kleiber et al ; Smith et al meneliti tentang penggunaan radioaktif isotop dari kalsium dan fosfor terhadap metabolismenya pada sapi dan babi.
e. 1859, Lawes dab Gilbert mempublikasikan data tentang komposisi mineral pada perusahaan peternakan sapi, domba dan babi.
f. 1920, Bertrand di Perancis dan Mc Hargue di USA menggunakan ransum buatan untuk mempelajari fungsi biologi dari mineral makro dan mikro.
g. 1929, Lintzel melakukan percobaan dengan publikasi pertamanya berhubungan dengan metabolisme mineral pada peternakan, yang berjudul “Handbuch der Ernahrung und des Stoffwechsels der landw. Nutztiere”
h. 1920-32, Vernadskii, meneliti tentang hubungan komposisi kimia organisme dan kimia Earth’s crust.
i. 1938-42, Hevesy dan rekannya mulai menggunakan radioisotop untuk mempelajari tentang metobolisme mineral pada ternak.
j. 1946, D’yakov dan Golubentsova mempublikasikan buku pertamanya yanmg berhubungan dengan metabolisme mineral pada ternak.
k. 1946-49, Vinogradov menyatakan konsep tentang biogeokimia .
l. 1957-64, Koval,skii di Uni Sovyet membuat formulasi konsep hubungan antara ekologi geokimia sebagai cabang geokimia yang berhubungan dengan organisme dan tanah.
m. 1959-65, Cuthbertson et al, menyatakan metode faktorial untuk menentukan kebutuhan makroelemen dan penggunaannya di dalam ransum untuk peternakan.

Sistem pengklasifikasian mineral untuk mendeteksi dalam tubuh ternak menggunakan salah satu dari kriteria berikut :
a. Berdasarkan lokasi pada jaringan atau organ yang spesifik
b. Konsentrasinya dalam tubuh organisme
c. Fungsi pentingnya.

Berdasarkan lokasinya mineral diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Mineral yang lokasinya di dalam jaringan tulang (osteotropic). Termasuk di dalamnya Ca, Mg, Sr, Be, F, Va, Ba, Ti, Ra, lead dan elemen- elemen lainnya.
b. Mineral yang lokasinya di dalam retikuloendothelial yaitu : Fe, Copper, Mn. Ag, Chromium, Ni, Co, dan beberapa lanthanides.
c. Mineral yang tidak spesifik pada jaringan particular, yaitu Sodium, Pottasium, S, Cl, Li, Ru, Caesium.
Selanjutnya berdasarkan berdasarkan jumlahnya mineral diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Makro elemen Contohnya, Ca, P, K, Na, S, Cl dan Mg
b. Mikro elemen comtohnya Fe, Zn, F, Sr, Mo, Cu, Br, Si, Cs. I, Mn, Al Pb, Cd, B, Rb.
c. Trace elemen, contohnya, Se, Co, V, Cr, As, Ni,Li, Ba, Ti, Ag, Sn, Be, Ga, Ge, Hg, Sc, Zr, Bi, Sb, U,Th, Rh.
Berdasarkan fungsi biologis mineral diklasfikasikan ke dalam tiga kelas yaitu :
a. Mineral esensial (biogenic atau elemen biotik).
b. Mineral mungkin ensensial (kondisional)
c. Mineral yang fungsinya belum diketahui atau tidak diketahui sama sekali.
Fungsi – fungsi utama dari mineral adalah :
a. Berpartisipasi dalam pembentukan jaringan
b. Memelihara keseimbangan membran sel
c. Memelihara homeostatis cairan internal
d. Mengaktivasi reaksi biokimia melalui aksi dan system enzim
e. Langsung dan tidak langsung mempengaruhi fungsi dari kelenjar endokrin
f. Mempengaruhi simbiotik mikroflora pada saluran pencernaan.

Kebutuhan mineral adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri untuk ternak selain untuk hidup pokok dan produksi. Beberapa studi klasik tentang metabolisme mineral telah dilakukan pada kambing sebagai subjek percobaan. Hasil studi ini termasuk dari Fingerling (1911,1913) yang menggunakan Calsium dan Phosphos untuk kambing laktasi. Hart et al (1921 , 1924, 1927) dan Henderson dan Mc Gee melaporkan data metabolisme calsium pada kambing, yang mana berperan penting pada penemuan peranan vitamin D dalam absorbsi dan metabolisme calsium

Calsium
Calsium adalah nutrient kritis yang terdapat dalam formulasi ransum, untuk semua spesies ternak. Walaupun sebagian besar calsium dibentuk oleh tubuh terutama pada rangka, dan elemen penting lainnya seperti jaringan lunak. Defesiensi calsium pada ternak muda akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan dan perkembangan, dan dapat mengakibatkan rapuh tulang (rakhitis). Untuk menghasilkan susu yang tinggi kalsium (Macy et al, 1953 ; Parkash dan Jennes, 1968), ransum untuk kambing laktasi membutuhkan kalsium tinggi. Fingerling (1911, 1913) menyatakan bahwa jika kambing tidak memperoleh sejumlah calsium dan phosphor pada makanannya, maka kambing akan mengambil mineral tersebut dari tempat penyimpanannya yang mempengaruhi susu dan komposisi susu yang dihasilkan. Jika defisiensi calsium terjadi selama seminggu, terjadi penurunan susu. Konsumsi kalsium yang tinggi pada kambing akan disimpan dalam tubuh dan produksi susu meningkat. Selain itu dilakukan percobaan mengenai interaksi mineral dengan metabolisme kalsium. Percobaan menggunakan ligated intestinal loops dalam anaestherized kambing dan injeksi calsium radioaktif (Gibbons et al, 1972) menunjukkan bahwa kalsium pada usus halus meningkatkan absorbsi karbohidrat dan oleh rendahnya konsentrasi sodium pada luminal. Calsium diabsorbsi pada duodenum, jejenum dan lebih rendah pada ileum.
Pada hewan yang merumput, kondisi calsium sering menjadi problem Kalsium yang rendah pada ransum berperan menurunkan produksi susu. Tingkat kalsium pada ransum juga berperan penting untuk mencegah parturient paresis (milk fever) .
Phospor
Phosphor dibutuhkan antara perkembangan jaringan dan tulang. Defisiensi phosphor akan menghasilkan pertumbuhan yang lambat, penurunan nafsu makan dan ketidakmampuan; sering terjadi pada rendahnya phospor di dalam darah. Fingerling (1911) menunjukkan bahwa kesimpulan umum tentang defisiensi calsium juga mengakibatkan difisiensi phospor. Defisiensi phosphor , saat konsumsi 1/5 dari keadaan normal, produksi susu menurun 60%. Penambahan P2O5 dan CaO ke dalam ransum atau pada tingkat 6 g phosphor dan 14 g calsium akan menghasilkan susu 10% pada 2 minggu dan 15-25% pada empat minggu dengan ransum yang mengandung isokalori dan isonitrogenous.
Sodium dan Chlorine
Sodium chloride adalah mineral yang biasanya disediakan oleh hewan. Kebutuhan antara sodium dan chloride, tetapi sodium adalah mineral tidak sedikit diperlukan (Schellner, 1972). Saat makanan yang disediakan bebas untuk dipilih, ternak ruminansia biasanya mengkonsumsi garam sesuai kebutuhannya walaupun tidak terlihat secara nyata. Hewan yang diberikan ransum tidak mengandung garam memperlihatkan penurunan konsumsi ransum dan mengkonsumsi tanah/partikel yang berasarl dari tanah. Jika ternak disediakan ransum yang tidak bebas untuk memilih, maka garam ditambahkan ke dalam ransum. Direkomendasikan tingkat pemberian adalah 0,5% pada ransum yang lengkap atau diberi sebagai suplemen.
Magnesium
Magnesium dibutuhkan oleh banyak sistem enzim dan dianggap membantu dalam fungsi sistem jaringan syaraf. Juga diasosiasikan dengan metabolisme calsium dan phospor. Symptom dari defisiensi magnesium antara lain merangsang kalsifikasi jaringan lunak. Sebagai catatan biasanya dihubungkan dengan masalah menimbulkan hypomagnesimia yaitu grass tetany, yang sering terjadi pada hewan yang sedang merumput pada pasture yang subur atau pada winter sereal pada pasture yang kaya N dan Pottasium.
Pottasium
Pottasium juga dibutuhkan relatif dalam jumlah besar biasanya disediakan oleh roughaghe- ransum dasar. Defisiensi marginal akan menghasilkan penurunan konsumsi ransum, pertumbuhan dan produksi susu. Beberapa akibat defisiensi dapat menyebabkan kurus dan miskin muscular tone. Pada domba masa pertumbuhan membutuhkan pottasium 0,5 % dalam ransumnya, pada sapi laktasi 0,8% (Wash, 1966). Pottasium yang biasanya digunakan sebagai suplemen adalah chloride, bicarbonat dan sulfat.
Sulfur
Sulfur merupakan komponen dari seluruh protein tubuh dan terutama terdapat lebih tinggi pada kambing tipe woll (hair), mengandung proporsi asam amino yang mengandung sulfur, antara lain methionin dan sistin. Defesiensi marginal menyebabkan miskinnya penampilan hewan dan lebih ekstrim menghasilkan kelebihan saliva, lacrimation dan alopecia tetapi defesiensi tersebut tidak terlihat nyata. Hasil studi dari Wheeler (1973) mengindikasikan potensi rendahnya sulfur pada forage sorghum. Hasil studi yang lain yaitu dari Gartner dan Hurwood (1976) mengindikasikasi bahwa asam tannin yang dikandung oleh tanaman seperti Acacia aneura menunjukkan ketidakcukupan ketersediaan sulfur. Direkomendasikan secara normal ratio sulfur –nitrogen adalah 1:10. Kebutuhan sulfur antara 0,16 sampai 0,32 % dalam ransum yang mengandung protein 10 sampai 20%. Sulfat antara lain sodium sulfate dan ammonium sulfat merupakan salah satu bentuk sulfur yang tersedia cukup banyak dalam formulasi ransum.
Iron
Iron adalah salah satu komponen dari darah yang dibutuhkan untuk mentransportasikan oksigen. Juga dibutuhkan oleh beberapa sistem enzim. Walaupun defesiensi iron jarang terjadi pada hewan yang merumput, tetapi ini dapat terjadi pada ternak muda menyebabkan penyimpanan iron tubuh sedikit pada saat lahir dan iron susu (Jennes, 1980). Para peneliti (Lintzel dan Radeff, 1931) melaporkan bahwa iron pada kambing lebih tinggi dibanding sapi. Ferro sulfat dan ferri sitrat tersedia lebih banyak dibanding ferri oksida sebagai sumber iron dan direkomendasikan untuk formulasi ransum.
Iodine
Iodine dibutuhkan untuk pembentukan tiroxin. Indikasi kekurangan iodine pada kelenjar tiroid menjadi besar, kondisi ini disebut gondok (Honeker, 1949). Hasil observasi sebagian besar frekuensinya terjadi pada hewan yang baru lahir khususnya menyebabkan kematian pada anak domba. Kekuranga iodine terjadi secara luas di dunia termasuk di negara bagian Amerika.
Copper dan Molybdenum
Copper dan molybdenum saling berhubungan satu sama lain dalam metabolisme tubuh hewan (Hernig et al, 1974). Tingkat kedua mineral tersebut dapat rendah atau tinggi atau salah satu rendah dan lainnya tinggi. Problem ini biasanya terjadi saat dalam keadaan normal tingkat copper rendah maka molybdenum tinggi. Copper akan diekskresi dan terjadi defisiensi. Kondisi ini dapat dikoreksi dengan terapi copper.
Zinc
Kekurangan Zinc mengakibatkan sympton parakeratosis, kekakuan tulang sendi, pengeluaran saliva berlebihan, pembengkakan pada tanduk, kelebihan pertumbuhan, pengecilan testicles dan rendahnya libido (Neathery et al, 1973). Penurunan konsumsi ransum dan kurangnya berat badan juga terjadi akibat kekurangan zinc pada ransum. Zinc harus disuplai secara terus menerus disebabkan sedikitnya penyimpanan zinc dalam tubuh yang siap digunakan (NRC,1979). Pada ternak jantan muda yang sedang berkembang defiseinsi pada level 4 ppm (Neathery et al, 1973), pada betina dewasa 6-7 ppm saat laktasi. Penggunaan zinc sampai 1000 ppm menyebabkan keracunan.
Manganese
Difesiensi manganesse mengakibatkan malas berjalan, kelainan bentuk kaki dan penurunan reproduksi. Kelainan tidak nampak pada 5,5 ppm, tetapi tidak pada 90 ppm pada makanan (Anke et al, 1973b)
Mineral-Mineral lain
Fluorine dan selenium dapat disatukan antara satu dengan yang lain menyebabkan defisien dan racun pada pakan alami. Kekurangan Fluorine memperlihatkan gejala keracunan yang secara luas dihasilkan dari polusi industri. Kekurangan Se secara klasik menyebabkan penyakit pada jaringan putih (Hebert dan Cowan, 1971).
Cobalt adalah komponen vitamin B12. Kekurangan vitamin Vitamin B12 menyebabkan menurunnya nafsu makan, kurus, lesu, anemia dan penurunan produksi. Konsumsi pada domba 0,1 ppm diasumsikan sama dengan kambing. Pemberian biasanya dalam bentuk Cobalt sulfate atau cobalt chloride yang ditambahkan rata-rata 12 g per 100 kg garam yang tersedia untuk dikonsumsi

NUTRISI TERNAK BAB VI METABOLISME AIR



Air merupakan nutrient yang sangat penting, namun peranannya berbeda dengan nutrient lain. Air tidak dicerna terlebih dahulu sebelum diabsorbsi oleh usus halus, air tidak mensuplai energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan atau kerja.
Salah satu sifat istimewa air adalah bahwa air tetap dalam keadaan cair pada temperatur kamar dan temperatur tubuh, meskipun komponen-komponen dapat berbentuk gas pada temperatur tersebut. Jika bukan karena sifat tarik-menarik antar molekul air, maka air akan menguap dalam kondisi kehidupan yang normal. Sejumlah panas diperlukan untuk memecaha ikatan hydrogen yang menyebabkan molekuk air dapat melekat satu sama lain. Hal ini membuktikan bahwa air mengandung kapasitas panas yang tinggi untuk meningkatkan temperatur air. Oleh karena itu air merupakan konduktor panas yang buruk. Sifat ini sangat menguntungkan tubuh, meskipun air membantu menyebarkan panas secara meratakeseluruh tubuh, namun air juga menyerap panas yang dihasilkannya tanpa menyebabkan air itu sendiri panas.
Air berperan dalam proses pencernaan. Pada kenyataannya isitilah “hydrolysis” digunakan untuk menerangkan proses pencernaan dari substansi yang kompleks. Misalnya perubahan sukrosa oleh enzim sukrase untuk menjadi gula sederhana harus dibantu oleh air.
Dalam banyak reaksi enzimatik air berperan (1) penambahan oksigen dan pengurangan hydrogen (oksidasi), (2) penambahan atau penghilangan asam fosfat (3) pemecahan atau pembentukan ikatan-ikatan karbon dengan karbon. Air juga mempunyai peranan tertentu, seperti : cairan sinovial pelumas bagi pertautan tulang dan sebagai cairan di sekitar medulla spinalis dan otak, cairan cerebrospinalis dan sebagai bantalan system syaraf.
Secara umum persediaan air untuk ternak diperoleh dari : (1) air minum , (2) air yang terkandung dalam ransum, (3) air metabolic yang diperoleh dari hasil oksidasi ransum dan sintesa molekul yang komplek di dalam tubuh.
Sebagian besar air yang masuk ke dalam tubuh diabsorbsi oleh organ-organ saluran pencernaan. Terjadinya absorbsi ini dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain hubungan osmotic di dalam saluran usus halus. Bila cairan ransum lebih pekat dari cairan darah atau jaringan dalam bagian saluran pencernaan, air dapat ditarik ke dalam lumen dari usus yang sumbernya dari dua cairan tubuh. Faktor lain yang mempengaruhi absorbsi air adalah sifat karbohidrat sebagai komponen ransum yang dikonsumsi.
Pengaruh dari Kehilangan Air
Hewan sangat berbeda dalam kemampuannya untuk menggunakan dan menahan kekurangan air. Apabila manusia kekurangan air minum dalam lingkungan yang panas dan kering, maka ia segera mengalami kehausan. Bila kekurangan air tersebut mendekat 4 – 5 % dari berat badannya, maka akan terjadi gangguan kesehatan. Bila kehilangan air tersebut bertambah menjadi 6-10% maka akan terjadi pusing, gerakan kehilangan koordinasi, bicara menjadi kacau dan terlihat gejala sesak nafas dan kebiru-biruan. Pada kekurangan air 12-14%, mata menjadi cekung, kulit berkerut, tidak berdaya untuk menelan dan timbullah gejala delirium . Bila kehilangan air dari darah maka viscositas darah dan kemampuan darah untuk mengalir meninggi. Apabila kecepatan denyut jantung tidak mungkin lagi untuk mengedarkan darah cukup cepat untuk menghilangkan panas dari bagian dalam tubuh, terjadilah suatu kenaikkan suhu tubuh yang fatal. Dalam lingkungan panas yang tinggi kehilangan air sebanyak lebih kurang 12% adalah bagi manusia. Beberapa hewan padang pasir seperti unta dan gerbil dapat menahan kehilangan air yang lebih banyak daripada manusia atau anjing dengan tidak mengalami panas yang meningkat.
Pada ayam pedaging pengurangan air sebesar 20% atau lebih mengakibatkan penurunan yang nyata dalam efesiensi penggunaan makanan dan penurunan yang sebanding dalam laju pertumbuhan. Pengambilan air mengurangi laju pencernaan dengan cara memperlambat pergerakan makanan dari tembolok.
Ayam dewasa yang mengalami kekurangan air memperlihatkan gejala necrosis pada ovariumnya, proventricullus dan nephrosis. Besar telurnya dari kulit telur menurun. Pembatasan air akan mengakibatkan produksi telur dengan kulit yang sangat tipis diikuti dengan produksi beberapa butir telur tanpa kulit. Akhirnya produksi telur akan berhenti sama sekali. Gejala-gejala tersebut terjadi setelah 48 jam.
Kehilangan air akibat proses dalam tubuh cukup bervariasi. Secara umum kehilangan air dapat terjadi melalui (1) hilangnya air melalui saluran pencernaan , (2) hilangnya air melalui air kencin, (3) hilangnya air melalui penafasan dan melalui kulit.
Bila ternak dibatasi konsumsi air minumnya, terutama dalam keadaan panas, ternak akan memperlihatkan kehausan secara cepat. Jika air yang hilang melalui keringat 2-5% dari berat tubuh, maka akan mengganggu dan mengurangi nafsu makan. Bila kehilangan kira-kira 10% maka akan sakit kepala dan hilang ingatan, suara kabur dan jika kekurangan air sampai 12% kulit akan menjadi keriput, mata cekung dan tidak dapat menelan ransum. Perubahan-perubahan faali selama kenaikan hilangnya air adalah sebagai berikut :
1. Terjadi pertambahan denyut jantung dan naiknya temperatur rectal
2. Pernafasan bertambah cepat
3. Terjadi peningkatan yang cepat dari konsentrasi larutan darah
4. Volume darah berkurang dan peredaran darah menjadi sulit.

Kesulitan dalam sirkulasi darah yang kurang sempurna, akan mengakibatkan sulit bernafas, turunnya feed intake dan kesulitan menggerakkan otot sehingga tidak stabil dan emosional.
Penyerapan dan Pengeluaran Air
Air merupakan cairan yang diperlukan tubuh untuk penyerapan dan proses metabolisme. Air yang terdapat dalam sel disebut cairan intraseluler dan air yang terdapat di luar sel disebut cairan extraseluler yang terdiri dari plasma darah, air yang terdapat di dinding sistem pembuluh darah dan cairang usus (interstitial). Air di dalam eritrosit adalah intraseluler. Cairan intraseluler kira-kira 50% dari berat tubuh, cairang usus kira-kira 15 % dan plasma darah 5%.
Secara terus-menerus air dikeluarkan oleh tubuh lewat pernafasan udara (paru-paru) dan penguapan lewat kulit dan secara periodik dikeluarkan lewat feses dan urine. Air diperoleh dari makanan yang mengandung persentase air cukup tinggi. Molekul air secara mudah memasuki membran sel lewat kesetimbangan osmotic dan hidroststic yang berhubungan dengan transport unsur mineral, zat-zat gizi dan pembuangan hasil-hasilnya. Air diabsorbsi melalui dinding usus bagian luar dari cairan extraseluler dari darah, dimana volume ini cukup besar diregulasi oleh Sodium, sebagian besar kation dari cairang ruang tubuh. Volume dan konsentrasi osmosis dari cairang extraseluler juga diregulasi oleh 3-ADH dan garam yang bekerjasama dengan sistem aldosteron. Biasanya air akan pindah dari cairan extraseluler ke intraseluler sehinggan keseimbangan osmosis tercapai.
Kebutuhan akan air tergantung pada beberapa faktor. Kurang lebih 75% dari jaringan yang dibentuk selama pertumbuhan adalah air dan pada hewan dewasa proses-proses khusus seperti produksi susu dan telur memerlukan air sesuai dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Disamping kebutuhannya untuk pembentukan jaringan dan produk-produk tersebut dibutuhkan pula air dalam jumlah besar untuk mengimbangi kehilangan air akibat ekskresi melalui usus, ginjal, paru-paru-paru dan kulit. Kehilangan tersebut berhubungan dengan besar tubuh. Pada tikus penggunaan air sejumlah 800 ml/hari/m² dari luas tubuh telah diteliti. Akan tetapi kehilangan tersebut ditentukan oleh proses-proses tubuh dan dengan demikian sangat berbeda –beda sesuai dengan ransum, sifat dari hasil akhir dari metabolisme dan faktor-faktor lainnya. Kehilangan melalui usus berbeda sesuai dengan jenis ransum. Kehilangan tersebut naik dengan kadar ransum kasar yang dikonsumsi dan akan naik dengan konsumsi ransum yang mempunyai sifat laxans. Pada umumnya makin besar proporsi dari bahan yang tak tercerna, makin besar kehilangannya. Pada sapi, kotorannya mengandung kurang lebih 80% air. Feses tersebut lebih kering daripada domba dengan ransum yang sama dan hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan spesies dan pada keadaan normal, kehilangan tersebut sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah air perharinya dari sekresi pencernaan adalah beberapa kali lebih banyak daripada plasma tubuh. Pada umunya semua air yang dikeluarkan akan diserap kembali. Pada diare terjadilah kehilangan air yang banyak yang dapat menyebabkan kekeringan (dehydrasi).
Jumlah air yang dikeluarkan dalam urine sangat berubah-ubah tergantung dari berbagai faktor. Ginjal mengatur isi dan komposisi cairan tubuh mengeluarkan banyak atau sedikit air tergantung dari yang diminum, yang dikeluarkan melalui saluran-saluran lain dan tergantung dari jumlah hasil katabolik, yaitu zat-zat mineral dan hasil akhir zat nitrogen seperti urea dimana air berfungsi sebagai zat pelarut. Melalui kekuatannya untuk menyaring kemudiaN memekatkan hasil saringan dengan cara mnenyerap kembali air tersebut maka ginjal dapat mengurangi kekurangan tersebut seminimal mungkin. Makin besar jumlah zat-zat mineral dan protein dalam ransum, makin besar pula jumlah air yang hilang dan sesuai dengan itu akan mempertinggi kebutuhan akan air. Perbedaan besar yang terdapat pada kemampuan hewan menghemat air diilustrasikan dengan menunjuukan perbandingan konsentrasi elektrolit pada urine onta. Kangaroo rat dan manusia.
Spesies
Urinary concentration
Urea,mM/liter
Elektrolit,mEq/liter
Osmotic,osm/liter
Manusia
Onta
Kangaroo rat
792
229
3.840
460
1.068
1.200
1,43
2,8
5,5
Schmidt-Nielsen menyatakan bahwa seekor onta yang telah kehilangan air 20% dari berat tubuh sebelumnya akan menurunkan nafsu makan. Setelah 7 hari secara langsung ditempatkan pada musim panas dengan suhu udara 40° C atau lebih tanpa air kehilangan 27% dari berat badan, setelah diberi air secukupnya selama beberapa menit onta tersebut akan memperbaiki kondisi tubuhnya dan tidak menunjukkan gejala sakit yang nyata. Kondisi ini menunjukkan bahwa onta selama kekurangan air akan memanfaatkan karbohidrat seminimal mungkin selama dia kekurangan air untuk diekskresikan . Dalam hal keadaan patologis maka terlalu banyak air dalam jaringan, rongga tubuh dan tempat-tempat lain menyebabkan oedema.
Ada perbedaan spesies yang menyolok dalam ekskresi air, sesuai dengan sifat dari hasil akhir zat nitrogen. Pada mamalia hasil akhir utama dari protein adalah urea yang larut dalam air dan beracun bagi jaringan dalam larutan yang pekat. Jadi banyak air yang untuk mengencerkan urea tersebut hingga menjadi suatu konsentrasi yang tidak berbahaya untuk kemudian dikeluarkan dari jaringan dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh. Asam urat, hasil akhir utama zat nitrogen pada burung, dikeluarkan tubuh dalam bentuk yang hampir padat dengan air sedikit. Perombakkan protein menjadi asam urat memberikan lebih banyak air metabolik daripada katabolismenya menjadi urea. Jadi meskipun dalam beberapa hal sama, burung memerlukan air lebih sedkit daripada manusia dan burung peka terhadap kehilangan air yang tidak menentu. Mamalia akan hidup lebih lama tanpa makanan daripada tanpa air. Konsumsi makanan terutama protein tanpa air akan mempercepat kematian akibat dari tertimbunnya hasil-hasil akhir yang beracun. Burung, ular dan serangga akan tahan lebih lama dalam keadaan ini. Kutu baju yang mengandung 50% air dalam tubuhnya, hidup dari makanan yang mengandung air sebanyak 10% atau kurang. Ia mengeluarkan asam urat , jadi jumlah air yang sedikit diperoleh sebagai komponen makanannya ditambah dengan air metaboliknya mencukupi.
Air dan Pengaturan Suhu Tubuh
Sebagian besar hewan yang bertubuh panas secara terus menerus mengatur pengaruh dari suhu tubuh dengan memproduksi dan mengeluarkannya. Secara normal suhu tubuh berada di atas suhu lingkungan, panas yang telah dihasilkan secara tetap untuk memelihara suhu itu. Suhu lingkungan dan jumlah panas yang telah dihasilkan adalah faktor untuk menentukan dan memperpanjang atau memelihara panas itu sendiri. Jumlah panas yang disediakan dan dikeluarkan dari tubuh diatur , hal ini berhubungan dengan regulasi fisik. Pengaturan ini berkaitan dengan adaptasi aliran darah di bwah permukaan kulit oleh mekanisme kelenjar keringat dan proses pernafasan hasil dari evaporasi dari paru-paru. Kondisi ini disebut dissipation of body heat, dan aliran permukaan darah akan mengalami pertambahan dan memperluas pembuluh kapiler, yang mana memudahkan pengeluaran panasa dari radiasi, konduksi dan konveksi serta pembukaan pori-pori tubuh, dimana aliran ini digunakan untuk mengurangi evaporasi. Sebaliknya proses ini diperlukan apabila digunakan untuk penyimpanan panas tubuh.
Hewan –hewan yang tidak mempunyai kelenjar keringat seperti domba, babi dan anjing relatif terjadi peningkatan pada aliran darah dan penguapan pada paru-paru. Sebaliknya yang terjadi pada bangsa sapi , domba sebagian besar melakukan penguapan lewat pernafasan lebih sedikit (Brockway, Mc Donald dan Pullar 1965). Aktivitas dari regulasi panas tubuh akan mengubah jumlah dari thermal insulation antara lain subcutaneous fat, rambut, wool dan bulu pada unggas
Titik terendah dari suhu disebut “critical temperature”. Pembongkaran secara kimiawi harus berlangsung secara terus menerus. Temperatur lingkungan yang berkurang secara terus-menerus dimana akan terjadi mekanisme homeostatis yang tidak lengkap seperti yang diilustrasikan pada Gambar berikut :
Udara yang dikeluarkan melalui pernafasan telah jenuh dengan air dan meskipun bagi hewan yang sedang beristirahat di lingkungan yang dingin akan menyebabkan kehilangan yang sangat. Kehilangan tersebut akan dipertinggi oleh aktivitas fisik dan faktor-faktor lainnya yang menjurus ke perubahan pulmonal. Juga terjadi kehilangan terus-menerus melalui kulit lewat kelenjar keringat. Kehilangan melalui keringat menyebabkan menguapnya air untuk menghilangan panas dalam mengatur suhu tubuh. Kehilangan tersebut meningkat dengan adanya aktivitas urat daging dan suhu. Sebagian besar hewan yang mempunyai kelenjar keringat sedikit atau sama sekali tidak ada. Dalam keadaan ini paru-paru memainkan peranan penting dalam menghilangkan panas. Ekskresi yang terjadi secara terus-menerus dari uap air melalui paru-paru dan kulit sebagian besar bertanggung jawab atas kehilangan tubuh yang disebut “penguapan yang tidak terasa”, yang menggambarkan perbedaan antara pengambilan dan pengeluaran udara. Kehilangan tersebut merupakan jumlah yang besar sekali dan ber hubungan dengan suhu sekeliling, kelembaban dan sifat metabolismenya termasuk pengambilan air.
Sebagian besar hewan menggunakan air untuk mencegah meningkatnya panas tubuh untuk mengatasi panas lingkungan. Hewan-hewan kecil seperti rodensia melakukan istirahat (hibernation) yang disebut dengan aestivation, dimana mereka tidak melakukan aktivitas yang diakibatkan tingginya temperatur. Mereka menjaga panas atau suhu tubuhnya dari titik critis (critical point) melalui konduksi dan dinginnya tanah tanpa melakukan penguapan udara lewat pernafasan, tentu saja mereka tidak mengalami dehydrasi. Sebagian besar hewan seperti onta mempunyai kemampuan untuk bertoleransi terhadap dehydrasi dari air yang terdapay pada tubuhnya. Schmidt – Nielson melaporkan 64
bahwa onta hanya 1,0% dari berat tubuhnya melakukan penguapan selama selama matahari bersinar dalam satu hari di Gurun Sahara pada musim panas. Keledai melakukan penguapan 4,5% dan manusia 7%. Kecilnya penguapan dan pernafasan membantu onta untuk tetap survive lebih lama tanpa air dibandingkan dengan manusia. Bahwa onta mempunyai temperatur tubuh yang sangat bervariasi yaitu dari 6°C sampai dengan 34,2 – 40,7 °C dimana terdapat perbedaan temperatur yang besar antara malam dan siang di gurun Sahara. Hewan tersebut kebanyakan makan karbohidrat dan dengan demikian menghasilkan sedikit urea untuk ekskresi. Untuk sebagian dari kebutuhan energinya tergantung pada lemak yang disimpan dipunuknya dan metabolisme lemak tersebut menghasilkan air metabolik yang cukup. Penguapan melalui kulit diperkecil oleh lapisan rambut yang tebal dan kotoran yang kering.

NUTRISI TERNAK BAB V PENCERNAAN DAN PENYERAPAN NUTRIENT PADA TERNAK RUMINANSIA 1. Tujuan Instruksional Umum


Ternak ruminansia memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan ternak non ruminansia, dimana sistem pencernaan lebih kompleks. Ternak ruminansia mempunyai lambung yang sebenarnya dan secara anatomi terbagi menjadi tiga bagian yaitu rumen, retikulum dan omasum. Sesudah lahir, rumen, retikulum dan omasum terus berkembang sampai benar-benar berfungsi. Pada anak domba tahap transisi dimulai pada umur 3 minggu dan berakhir pada 9 minggu. 42
Sedangkan pada anak sapi fase ini dimulai pada umur 5 minggu dan berakhir pada umur 12 minggu.
Susunan dari alat-alat pencernaan ternak ruminansia adalah mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasums, usus halus, usus besar, kolon anus.
Ternak ruminansia mengunyah pakannya dengan mencampurkan sejumlah air liurnya yang dihasilkan oleh kelenjar saliva. Saliva domba dan babi disekresikan dengan kecepatan 10-15 liter per hari dan pada sapi 75 – 100 liter per hari. Sekresi ini dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis. Kemampuan lain dari ternak ruminansia adalah mengembalikan pakannya dari retikulo-rumen ke mulut (regurgitasi) untuk dimamah/dikunyah kembali. Proses ini disebut ruminansi. Bagian-bagian pakan dari ruang depan (anterior) rumen, karena daya vakum/hampa udara ditarik kembali ke esophagus dan mulut, bagian cair segera ditelan lagi sedangkan bagian kasar (bolus) dikunyah ulang sebelum dimasukkan kembali ke dalam rumen. Para ahli telah menemukan bahwa bolus dikunyah ulang 40 sampai 50 kali sebelum ditelan. Selanjutnya untuk waktu yang diperlukan dalam proses tersebut menurut beberapa ahli bahwa pada sapi waktu untuk grazing 8 jam dan 8 jam untuk ruminansi.
Cairan retikulo rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri kira-kira 109 tiap cc isin rumen, sedangkan jumlah protozoa bervariasi kira-kira 105 sampai 106 setiap cc. Jenis-jenis bakteri yang terdapat di dalam rumen disajikan pada Tabel berikut : 43
Species
Sumber Energi
Produk utama fermentasi
Bacteroides succinogenes
Glukosa, selulosa, selebiosa, pati
Asetat, suksinat, format
Ruminococcus albus
Glukosa, selulosa
Asetat, laktat, format


Etanol, CO2H2
Ruminococcus flavivacilus
Glukosa, relulosa
Asetat, suksinat

Xylan
Format, H2
Butyrivibrion fibrisolvans
Glukosa, selulosa
Asetat, butirat, laktat

Xylan, pati
Format, CO2, H2, etanol
Bateroides ruminicola
Glukosa, xylan, pati
Asetat, propionat, suksinat


Format
Bateroides amylophilus
Pati, maltosa
Asetat, suksinat, format
Selenomonus ruminantium
Glukosa, pati,
Asetat, propionat, laktat

Laktat, gliserol, suksinat
Format, CO2
Streptococcus bovis
Glukosa, pati
Laktat
Lachnospira
Glukosa, pati, pectin
Asetat, laktat, format


Etanol, CO2, H2
Succinivibrio
Glukosa, dekstrin
Asetat, suksinat, format
Peptostreptococcus elsdenii
Glukosa, glycerol, laktat
Asetat, propionat, butirat


CO2, H2, Asam kaproat
Vibrio spesies (lipolitik)
Gliserol
Propionat
Methanobacterium ruminantium
Format, H2
Metana
Sumber : Arora (1989)
Pencernaan microbial lebih penting terjadi pada ternak ruminansia, dimana memiliki kemampuan mencerna bahan pakan berserat kasar tinggi pada rumennya. Pada ternak ruminansia, pencernaan microbial mendahului pencernaan enzimatik, sebaliknya pada herbivora (kuda), fermentasi microbial terjadi di bagian posterior saluran pencernaan.
Pencernaan dan Absorbsi Karbohidrat dalam Retikulorumen. Pakan ruminansia mengandung selulosa, hemiselulosa, pati dan karbohidrat yang diperoleh dari tanaman. Pencernaan selulosa dan hemiselulosa oleh setiap spesies ternak diantara zat-zat yang menghasilkan energi tidak dibantu oleh enzim-enzim dari tubuh ternak. Pencernaan karbohidrat ini tergantung pada enzim-enzim mikroorganisme simbiotik yang menghambat satu atau banyak bagian saluran pencernaan.
Hasil akhir pencernaan selulosa dan hemiselulosa adalah asam lemak terbang dan gas. Sebagian besar ransum masih ada residu dari bagian yang tidak dicerna atau tidak diabsorbsi, sisa mikroflora dan atau hasil ikutan dari metabolisme intermedier (misalnya kalsium dan besi) secara normal tidak terdapat dalam feses, tapi akhirnya terdapat dalam caecum dan usus besar. Disini komponen organic dari gumpalan feses mengalami fermentasi sampai suatu derajat yang terganung pada sifat ransum dan spesies ternak.
Metabolisme Karbohidrat oleh Ruminansia
Glukosa dalam pencernaan ruminansia bersifat sementara saja dan segera diubah melalui pyruvat menjadi asam lemak terbang (VFA). Bakteri methagonik kemudian menggunakan formate, H2 , dan CO2 untuk memproduksi methane. Proporsi relatif asam lemak terbang bervariasi diantara pakan. Secara umum persentase molar pada semua pakan hay adalah asetat 65%, propionat 20%, butirat 12% dan lainnya seperti valerat, isovalerat dan isobutirat adalh 1%. Meningkatnya level bijian sampai 70% dapat merubah asetat dan propionat masing-masing 40 dan 37 molar.
Perubahan persentase asam bukanlah suatu peristiwa kebetulan tetapi hasil akhir dari suatu penyesuaian yang rumit dari biomass dalam rumen. Perubahan ransum yang tiba-tiba (misalnya substrat mikrobial) mempunyai pengaruh yang keras terhadap jumlah dan jenis kandungan mikroorganisme rumen. Jumlah organisme sellulotik menurun jika pati yang difermentasi meningkat. Tingkat perubahan masing-masing adalah akibat dari interaksi yang rumit dan fantastik diantara species-species mikroba, jumlah dan jenis mikroba produk akhir yang dihasilkan, penyerapan produk-produk ke dalam darah dan berlalunya material-material ke saluran pencernaan. Analisis akhirnya merupakan aksioma bahwa potensi oksidasi – reduksi dari biomass harus berada dalam keadaan seimbang untuk keberhasilan reaksi-reaksinya dan dalam rumen berhasil dikerjakan Van Soest telah menyadur konsep yang dilaporkan oleh Wolin (1970) dan menggambarkan jenis-jenis persamaan yang ada dalam fermentasi glukosa mwnjadi asam lemak terbang utama.
1. Asetat = C6H1206 + 2H2O → 2C2H4O2 + 2C02 + 8H
2. Propionat = C6H12O6 → 2C3H6O2 → 2 [O] (jalur Acrylate)
3. Butirat = C6H12O6 → C4H8O2 + 2CO2 + 4H
Sebenarnya persamaan tersebut memberitahukan kita bahwa jika senyawa-senyawa tersebut diproduksikan, akan terdapat kelebihan 8 H/mole asetat, 4h/mole butirat dann kekurangan 4 H pada setiap mole propionat yang terbentuk melalui jalur Acrylate. Oleh karena itu dalam fermentasi normal terdapat kelebihan [H] dan kandungan rumen [rumen content] merupakan medium pereduksi yang tinggi. Untuk keseimbangan, kelebihan hidrogen harus dipindahkan. Methane adalah penyerap hidrogen yang membuat proses ini menjadi seimbang. Methane tidak dapat dimetabolisme oleh hewan, oleh karena itu ia murni merupakan energi pakan yang hilang. Upaya ekstensif telah dilakukan untuk menurunkan produksi methane dan berarti berarti mengalihkan energinya ke senyawa-senyawa yang dapat dimetabolisme oleh hewan. Salah satu yang paling efektif dimiliki oleh Monensin. Karena sedikitnya methane yang diproduksi dan keseimbangan oksidasi-reduksi harus tetap, maka perubahan persentase molar asam lemak terbang mesti terjadi. Kenyataannya, terdapat kenaikan persentase propionat yang nyata, VFA kekurangan [H] dan reduksi asetat mengakibatkan VFA kelebihan [H]. Singkatnya, meskipun hal ini kompleks, fermentasi rumen adalah suatu proses perubahan biokimia yang sangat halus. Ini adalh kerja dan akan menjadi tantangan yang nyata bagi ahli biokimia ruminansia, mungkin dalam jangka waktu yang panjang.
Hasil studi pioner dari Barcroft dan asosiasinya dan penyelidikan berikutnya oleh peneliti lainnya, menjadikan lebih jelasnya dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa asam-asam lemak yang diproduksi oleh aksi mikrobial langsung diserap dari rumen, retikulum, omasum dan usus besar. Penyerapan dari rumen adalah cepat dan peningkatan levelnya dalam darah portal telah dicatat sekitar 10 menit setelah makan. Nampaknya proses berupa difusi sederhana dengan tanpa memisahkan asam-asam berlangsung pada pH rumen yang normal yaitu sekitar 6,7. Epitelium rumen bukanlah saringan sederhana tetapi mempunyai kapasitas untuk memetabolime asam lemak terbang sebagaimana yang diserap. Dipercaya 80-90% butirat diubah menjadi keton bodies (asam  asetoasetik dan asam β-hidroksi-butirat). Oleh karena itu level butirat darah portal darah sistemik adalah sangat rendah. Sampai dengan 50% propionat akan dimetabolisme menjadi laktat dan pyruvat selama penyerapan. Relatif sedikit asetat yang digunakan untuk hal lain dibanding sebagai sumber energi oleh ephitelium rumen dan otot.
Metabolisme Asam-Asam Lemak Terbang (VFA)
Hati yang memberikan berbagai metabolit karbohidrat ke dalam darah portal, tidak satupun berupa glukosa sebagaimana ruminansia. Asetat dalam jumlah besar meninggalkan hati masuk ke aliran darah. Hanya VFA ini (asetat) yang didapatkan dalam jumlah cukup besar dalam sirkulasi Peripheral. Asetat difosforilasi menjadi Asetil- CoA dan masuk ke siklus TCA. Ia membutuhkan 2 senyawa berenergi tinggi agar menjadi aktif dan menghasilkan 12 molekul ATP pada oksidasinya (3 NADH , 1 FADH , 1 ATP ). Oleh karena itu terdapat kenaikan bersih 10 ATP per molekul asam asetat yang diserap. Asetat dapat juga digunakan secara tepat untuk mensintesis lemak susu, khususnya asam-asam rantai pendek.
Asam propionat sebagian besar dipindahkan dari darah portal oleh hati yang akan mengubahnya menjadi glukosa. Kenyataannya, propionat inilah yang merupakan sumber glukosa utama bagi ruminansia dan dalam hal sapi memproduksi 40 kg susu per hari, telah diestimasikan disumbangkan sebanyak 60% dari yang dibutuhkan. Propionat yang diubah menjadi glukosa, pertama kali masuk ke siklus TCA sebagai suksinil – CoA dengan cara sebagai berikkut :


Senyawa ini membutuhkan 3 senyawa yang berenegi tinggi dan melibatkan 2 vitamin yaitu Biotin dan vitamin B12. Jika reaksi oksaloasetat – fosfoenolpyruvat tidak dapat balik, maka Suksinil CoA harus melampaui reaksi ini dengan cara langsung ke Fosfoenolpyruvat dan sampai ke glukosa. Karena oksaloasetat tidak dapat melewati membran mitokondria, sedangkan malat dapat, maka Suksinil CoA akan diubah menjadi malat yang keluar menembus membran kemudian diubah lagi menjadi oksaloasetat dan selanjutnya menjadi Fosfoenolpyruvat. Fosfoenolpyruvat kemudian bergerak berkebalikan dengan glikolisis untuk menghasilkan glukosa. Jika propionat diubah menjadi glukosa dan selanjutnya menjadi CO dan H O akan terdapat kenaikan bersih 17 ATP per molekul atau 34 per glukosa equivalent (C6). Hal ini berlainan dengan hasil dari glukosanya sendiri yaitu 36 ATP.
Asam butirat yang diserap sebagai benda-benda keton (Keton body) pada akhirnya dimetabolisme sebagai Asetil – CoA. Produksi bersih ATP adalah 25 per molekul butirat.
Pencernaan protein dalam retikulo-rumen. Protein kasar yang masuk ke dalam retikulo-rumen berasal ransum dan saliva dalam bentuk protein murni dan NPN. Perlu diketahui beberapa protein murni tidak dicerna oleh jasad renik sehingga masuk ke abomasums masih utuh dan mengalami pencernaan disini untuk selanjutnya diserap oleh usus halus.
Protein murni yang tak dapat menghindar dari pencernaan di retikulo-rumen dicerna oleh peptidase jasad renik dan diuraikan menjadi asam-asam amino, yang dapat (1) dipakai untuk sintesa protein jasad renik, atau (2) dideaminasi untuk membentuk asam-asam organic, ammonia dan CO2. Singkatnya sumber protein yang masuk abomasums ruminansia adalah sebagai berikut :
1. Protein ransum dan saliva yang lolos dari aktivitas jasad renik dan retikulo-rumen.
2. Protein jasad renik, yang berasal dari :
a. Asam-asam amino protein ransum dan saliva
b. Asam-asam amino yang berasal dari ammonia dari asam-asam amino ter-deaminasi (langsung atau diubah sebagai urea)
c. Asam-asam amino yang berasal dari senyawa-senyawa NPN ransum.

Pencernaan dan Absorbsi Lemak dalam retikulo-rumen. Mekanisme pencernaan dan absorbsi lemak pada ruminansia beragam umur, mekanisme pada anak sapi yang baru dilahirkan atau anak kambing yang mempunyai rumen tidak berfungsi. Pada ruminansia dewasa semua lemak ransum dihidrolisis menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh mikroflora rumen. Hidrogenasi asam-asam lemak yang tidak jenuh sangat banyak berlangsung dalam rumen. Dengan demikian lemak yang masuk ke dalam usus halus mengandung asam-asam lemak bebas jenuh dalam jumlah yang tinggi dan sedikit monogliserida.
Pemasukan lemak dalam jumlah besar memperlambat pelepasan digesta melalui saluran pencernaan. Adanya lemak dalam usus halu menahan aktivitas otot dari perut dan dengan demikian meperlambat pengosongan perut. Ransum yang berlemak lebih dikatakan dalam keadaan “diam” daripada ransum yang mengandung lemak rendah. Mekanisme umpan balik ini memberi dorongan pencernaan dan absorbsi lemak optimum.