Sabtu, 21 Januari 2012

NUTRISI TERNAK BAB II KLASIFIKASI ZAT MAKANAN DAN METODE ANALISISNYA


Untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksi hewan memerlukan zat-zat gizi. Bahan pakan ternak mengandung zat – zat gizi yang diperlukan ternak untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut. Para ahli pakan ternak telah mencoba untuk mengadakan deskripsi terhadap bahan pakan ternak dan zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Berdasarkan nomenklatur internasional, bahan pakan ternak dibagi ke dalam 8 kelas yaitu :
Kelas 1 : Forage kering dan “Roughage”
Yang termasuk dalam kelas ini adalah semua hay, jerami kering, dry fodder, dry stover dan semua bahan pakan yang mengandung 18% atau lebih serat kasar.
Kelas 2 : Pasture (hijauan), ramban
Yang termasuk dalam kelas ini adalah semua tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijauan atau hijauan segar.
Kelas 3 : Silase
Yang termasuk dalam kelas ini adalah semua bahan pakan yang dipotong-potong atau dicacah dan difermentasikan
Kelas 4 : Makanan sumber energi
Yang termasuk dalam kelas ini adalah semua biji-bijian, hasil ikutannya, buah-buahan, umbi-umbian. Yang dimasukkan dalam kelas ini untuk biji-bijian adalah mempunyai kandungan protein kurang dari 20% dan 18% serat kasar.
Kelas 5 : Makanan sumber protein
Adalah semua bahan pakan yang mempunyai kandungan protein 20% atau lebih dan dapat berasal dari tanaman, hewan, ikan dan milk.
Kelas 6 : Makanan Sumber Mineral
Kelas 7 : Makanan Sumber Vitamin
Kelas 8 : Makanan Aditif
Yaitu zat-zat tertentu yang biasanya ditambahkan ke dalam ransum seperti antibiotika, zat-zat warna, hormon dan obat-obat lainnya.
Mengingat sangat kompleksnya penganalisaan bahan pakan, orang mencoba membuat penyederhanaan yaitu mencoba mengelompokkan zat-zat makanan berdasarkan sifat fisik dan kimianya. Usaha ini telah dirintis oleh para sarjana Jerman sejak awal abad ke 16. Metode ini dikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Hennerberg dan Stochman pada tahun 1865, yaitu suatu metode analisis dengan menggolongkan komponen makanan yang ada pada makanan. Cara ini hampir dipakai diseluruh dunia dan disebut “analisis proksimat” (Maynard, 1980). Berdasarkan Gambar 1 bahwa fraksi hasil analisis proksimat dalam bahan pakan adalah sebagai berikut :
1. Fraksi : Air
Komponen : air dan asam/basa yang menguap (jika ada)
2. Fraksi : Abu
Komponen :
Elemen Esensial :
- Makro : Ca, K, Mg,Na, S, P, Cl
- Mikro : Fe, Mn, Cu, Co, I, Zn, Mo, Se, Cr.
Elemen non esensial : Ai, Ni, Ti, Al, V, B, Pb, Sn

3. Fraksi : Protein kasar
Komponen : Protein, asam amino, amine nitrat, glikosida mengandung
N, glikolipida, Vitamin B, Asam nukleat.
4. Fraksi : Ekstrak eter
Komponen : Lemak, minyak, malam (lilin), asam organic, pigmen, sterol, vitamin-
vitamin A, D, E dan K
5. Fraksi : Serat kasar
Komponen : Selulosa, hemiselulosa dan lignin
6. Fraksi : BETN
Komponen : Selulose, hemiselulose, lignin, gula fruktan, pati, pectin, asam organic, resin, tannin, pigmen, vitamin-vitamin yang larut dalam air.
Analisa proksimat membagi karbohidrat menjadi dua komponen yaitu serat kasar dan BETN.
Tabel 1. Beberapa Zat Hidrat Arang yang terdapat dalam BETN dan Bagian Serat Kasar pada Analisis Proksimat
Klasifikasi karbohidrat
Nama
Unit monosakarida
Kelarutannya di dalam Analisis Serat
Bagian-bagian yang dipunyai
Monosakarida
Arabinosa

Larut semua
BETN
Xilosa
(C5H10O5)
Ribosa

Fruktosa

Galaktosa
(C6H12O6)
Glukosa

Manosa

Oligosakarida (<10 monosakarida)
Laktosa

Maltosa

Sukrosa
(C6H10O5)2*)
Trahalosa


Glikogen
(C6H10O5)n


Oligosakarida (<10 monosakarida)
Hemi

Larut sebagian
Variabel



Araban
(C5H8O4)n
Mannan

Galaktan
(C6H10O5)n

Selulosa

Tidak larut
Crude fiber
Lignin
Lignin



*) Hanya disakarida penting dalam pakan ternak
Seseorang yang mempelajari ilmu makanan ternak atau cara pemberian makanan ternak secara praktis untuk ternak, akan berpendapat bahwa nilai hasil analisis proksimat tidak memuaskan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga harus didapat dengan cara lain. Hal ini bisa dipahami, mengingat hasil analisis merupakan perkiraan. Misalnya untuk menentukan nilai protein kasar suatu bahan pakan diperoleh dengan cara mengalikan factor 6,25. Sementara tidak semua bahan pakan dapat dikalikan dengan factor tersebut. Sehingga hal ini merupakan satu kelemahan dari hasil analisis proksimat tersebut. Namun demikian hingga saat ini analisis proksimat masih tetap digunakan, mengingat hingga saat ini belum ada metode untuk menentukan nilai nutrient bahan pakan selain metode proksimat. Fraksi-fraksi dalam bahan pakan yang terdiri dari campuran tidak dapat diketahui dengan cara sederhana. Sementara angka yang dihasilkan dari analisis proksimat ternyata masih terdapat kecocokan dengan angka yang dihasilkan melalui analisis kimia yang lebih canggih. Hingga saat ini, cara analisis bahan pakan ternak secara modern kenyataannya merupakan tambahan cara yang telah ada.
Selain metode proksimat, metode selanjutnya yang biasa digunakan memisahkan komponen hijauan adalah metode Van Soest. Goering dan Van Soest (1975) merintis suatu metode analisis serat hijauan yang membagi karbohidrat pakan menjadi fraksi-fraksi berdasarkan ketersediaan nutrisinya yang disebut metode Van Soest.
Prosedur analisis ini menurut Van Soest (1982), membagi BK hijauann menjadi fraksi isi sel (NDS) yang kecernaannya rendah. Prinsip kerjanya adalah material yang dapat larut diekstraksi dengan menggodok sampel hijauan dengan larutan detergen netral mengandung Na-Lauril sulfat selama satu jam, kemudian disaring. Penyusun dinding sel NDF dipisahkan melalui filtrasi . Prinsip ADF dengan cara sampel digodok dengan larutan asam sulfurik dari CTAB.
Bahan yang tidak larut yang tersisa pada penyaring terutama terdiri dari lignoselulose dan silika disebut ADF. Selanjutnya perlakuan ADF dengan asam Sulfurik 72% akan melarutkan selulose dan pengabuan residu dilakukan untuk menentukan fraksi lignin termasuk kutin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar